Notification

×

Iklan

Iklan

Selayar “Move On”: Natsir Ali Kembalikan Kejayaan Kelapa “Gold Grend”

الأربعاء، أبريل 01، 2026 | 7:06 م WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-07T11:06:12Z

 

Lounching Gemerlap Gerakan Menanam Lima Juta Kelapa yang dihadiri langsung Meteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman didampingi Bupati H Natsir Ali dan Wabup Drs. H. Muchtar (Photo: Istimewa) 


Realitynews.web.id | SELAYAR – Pernyataan Bupati Kepulauan Selayar, Muhammad Natsir Ali, bahwa daerahnya harus “move on” bukan sekadar ungkapan normatif. Ia mencerminkan kegelisahan sekaligus dorongan perubahan atas kondisi pembangunan yang selama ini dinilai belum sepenuhnya produktif dan belum optimal menyentuh kebutuhan masyarakat.


Dalam berbagai kesempatan, Natsir Ali menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama. Ada pengakuan terbuka bahwa sejumlah program sebelumnya belum memberikan dampak maksimal bagi rakyat. Karena itu, arah kebijakan kini didorong untuk kembali pada kepentingan masyarakat secara langsung—baik melalui program ketahanan pangan, Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih, hingga penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.


Selayar, dalam narasi besar itu, ditempatkan sebagai wilayah yang memiliki kekuatan historis pada sektor perkebunan, khususnya kelapa. Pada masa lalu, daerah Selayar ini bahkan pernah dikenal dengan sebutan “Gold Green” emas hijau, simbol kemakmuran dari hasil bumi. Namun, kejayaan tersebut perlahan meredup seiring perubahan zaman dan minimnya optimalisasi sumber daya.


Kini, pemerintah daerah Kepulauan Selayar mencoba menghidupkan kembali memori kolektif tersebut melalui program ambisius: gerakan penanaman lima juta pohon kelapa "Gemerlap". Program ini tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan kebijakan nasional di sektor pertanian yang juga didorong oleh Amran Sulaiman atas arahan Presiden.


Langkah ini bukan tanpa alasan. Selayar masih memiliki lahan luas yang belum tergarap atau “lahan tidur”. Potensi tersebut dipandang sebagai peluang ekonomi besar jika dikelola secara sistematis dan berkelanjutan. Pemerintah daerah pun mulai mengintervensi dengan pembagian bibit, bantuan biaya tanam, hingga pendampingan kepada petani.


Namun yang menarik, strategi ini tidak hanya berhenti pada kelapa. Di sela-sela tanaman kelapa, masyarakat didorong menanam jagung sebagai komoditas jangka pendek. Pola ini dinilai mampu memberikan pemasukan cepat bagi petani, sembari menunggu kelapa sebagai investasi jangka panjang.


Perhitungan ekonominya cukup menjanjikan. Dalam satu hektare lahan, produksi jagung dapat mencapai 7 hingga 10 ton per panen. Dengan harga pasar yang stabil, potensi pendapatan petani bisa mencapai puluhan juta rupiah setiap musim. Jika dikalikan dengan ribuan hektare lahan yang direncanakan, maka perputaran ekonomi yang dihasilkan bisa menembus ratusan miliar rupiah per tahun.


Optimisme ini semakin diperkuat dengan dukungan pemerintah provinsi yang dipimpin Andi Sudirman Sulaiman. Bahkan, Selayar diproyeksikan tidak hanya sebagai daerah penghasil, tetapi juga pusat industri pengolahan kelapa terpadu—mulai dari minyak, tempurung, hingga limbah batang.


Meski demikian, tantangan terbesar bukan terletak pada program, melainkan pada perubahan pola pikir masyarakat. Selama ini, produktivitas rendah dan ketergantungan pada pola lama menjadi kendala klasik di banyak daerah. Pemerintah pun mencoba mengatasinya dengan pendekatan sosial, termasuk skema kemitraan antara pemilik lahan dan masyarakat miskin, serta bantuan bertahap untuk memastikan keberlanjutan usaha.


Langkah ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak lagi sekadar soal anggaran, tetapi juga soal strategi dan keberanian memilih prioritas. Dalam konteks Selayar, pilihan pada sektor kelapa dan jagung bisa menjadi taruhan besar: apakah mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat atau justru menjadi program ambisius yang terhenti di tengah jalan.


Pada akhirnya, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada sinergi semua pihak—pemerintah, masyarakat, hingga pelaku usaha. Jika berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin Selayar akan kembali menemukan identitas lamanya sebagai daerah yang makmur dari hasil bumi.


Dan mungkin, di situlah makna “move on” yang sebenarnya: bukan melupakan masa lalu, tetapi menghidupkannya kembali dengan cara yang lebih relevan di masa kini. (AR) 

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update