![]() |
| Da'i nasional Das'ad Latif (Photo: Instagram resmi @dasadlatif1212) |
Menurutnya, dalam praktik jurnalistik, pemberitaan tidak cukup hanya berdasarkan fakta, tetapi juga perlu mempertimbangkan dampak dan manfaat informasi yang disampaikan kepada publik.
"Memang ada fakta, ada kejadian, ada saksi, tetapi sebagai insan yang memiliki nilai moral kita harus bertanya, apa manfaat dan dampak jika berita ini disampaikan kepada masyarakat," ujar Das’ad Latif dalam ceramahnya.
Ia kemudian mengutip kisah sahabat Nabi, Abu Hurairah, yang pernah mendengar kabar dari Muhammad mengenai keutamaan kalimat tauhid. Namun, ketika hendak menyampaikan kabar tersebut kepada masyarakat, ia dihentikan oleh Umar bin Khattab untuk memastikan kebenaran informasi dan mempertimbangkan dampaknya.
Dari kisah tersebut, Das’ad Latif menjelaskan bahwa menyampaikan informasi harus melalui pertimbangan yang matang.
"Setiap ucapan memiliki tempatnya, dan setiap tempat memiliki ucapan yang sesuai. Jangan sampai informasi yang benar sekalipun justru menimbulkan mudarat yang lebih besar," katanya.
Objektivitas dan Etika Jurnalistik
Dalam ceramahnya, Das’ad Latif juga menyinggung mengenai objektivitas dalam pemberitaan. Ia menyebut bahwa dunia jurnalistik memiliki tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara fakta, kepentingan publik, dan independensi media.
Ia mengingatkan bahwa media memiliki fungsi utama sebagaimana dikenal dalam ilmu komunikasi, yaitu memberikan informasi, edukasi, hiburan, serta menjalankan fungsi kontrol sosial.
"Media bukan hanya membuat berita menjadi viral. Media memiliki tanggung jawab mencerdaskan masyarakat," tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya proses verifikasi atau check and recheck sebelum sebuah informasi dipublikasikan.
Menurutnya, prinsip tersebut juga sejalan dengan pesan dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 6 yang mengajarkan agar setiap informasi diperiksa terlebih dahulu agar tidak menimbulkan penyesalan dan kerugian bagi orang lain.
"Kalau datang sebuah informasi, lakukan klarifikasi. Jangan sampai kita menyebarkan sesuatu yang akhirnya merugikan orang lain," jelasnya.
Pers Sebagai Pilar Edukasi Publik
Das’ad Latif juga mengingatkan bahwa profesi jurnalis memiliki tanggung jawab besar karena tulisan yang diterbitkan dapat membentuk opini masyarakat.
Ia mengibaratkan informasi bohong seperti bulu-bulu yang diterbangkan angin. Ketika sudah menyebar, sulit untuk dikumpulkan kembali meskipun klarifikasi telah diberikan.
"Berita yang salah bisa meninggalkan dampak panjang. Karena itu, wartawan harus menjaga akurasi dan bertanggung jawab terhadap setiap informasi yang disampaikan," ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa kritik merupakan bagian penting dalam demokrasi. Namun, kritik harus tetap dilakukan dengan cara yang beretika dan tidak menyerang pribadi.
"Islam tidak melarang kritik. Kritik boleh, tetapi harus dengan adab. Menyampaikan pendapat tidak berarti harus menghina atau merendahkan orang lain," ujarnya.
Jurnalis Memiliki Peran Strategis Menjaga Persatuan
Di akhir ceramahnya, Das’ad Latif menyampaikan bahwa profesi polisi dan jurnalis memiliki bentuk pengabdian masing-masing.
"Sedekahnya polisi adalah menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Sedekahnya jurnalis adalah memberikan berita yang mengedukasi, mendidik, menghibur, serta menjaga persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia," tutupnya.
Ceramah tersebut menjadi pengingat bahwa insan pers tidak hanya bertugas menyampaikan peristiwa, tetapi juga memiliki peran strategis dalam membangun budaya informasi yang sehat, berimbang, dan mencerdaskan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Das’ad Latif saat memberikan ceramah di hadapan Kepolisian Negara Republik Indonesia dan para insan pers dalam kegiatan buka puasa bersama Ramadhan 2026. Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya peran media massa sebagai penyampai informasi, sarana edukasi, sekaligus kontrol sosial.
Penulis: Andi Rusman




