![]() |
| Korban Sutrimo tampak dievakuasi menggunakan ambulans menuju RS Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta Selatan (Photo: Istimewa) |
Berdasarkan informasi yang dihimpun redaksi AFU.ID di Jakarta, Senin (27/7/2026), Sutrimo disebut sempat menghubungi seorang kerabat pada Kamis (23/7) sekitar pukul 06.37 WIB. Dalam percakapan tersebut, ia mengeluhkan kondisi kesehatannya.
Namun, saat kerabat mendatangi lokasi, Sutrimo telah ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri dengan busa keluar dari mulut dan hidung. Korban kemudian dievakuasi menggunakan ambulans menuju RS Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta Selatan. Berdasarkan rekam medis rumah sakit, Sutrimo tiba dalam keadaan telah meninggal dunia.
Misteri Pemesan Ambulans
Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah identitas pemesan ambulans yang hingga kini belum diketahui.
Sopir ambulans mengaku menerima pesanan secara daring dari seseorang yang tidak memperkenalkan identitasnya. Ia hanya diminta menjemput korban di depan Klinik Mordent, lokasi tempat Sutrimo ditemukan tergeletak tanpa bergerak dengan busa keluar dari mulut dan hidung.
Hingga kini belum diketahui siapa pihak yang melakukan pemesanan ambulans tersebut.
Diantar Empat Orang Tak Dikenal
Tak hanya pemesan ambulans yang menjadi misteri, empat orang yang mengantar Sutrimo ke rumah sakit juga belum diketahui identitasnya.
Petugas keamanan RS Muhammadiyah Taman Puring menyebut korban diantar oleh empat pria yang tidak dikenalnya. Dalam administrasi rumah sakit, penanggung jawab pasien tercatat atas nama Febrio Adianto.
Pihak rumah sakit juga mencatat Sutrimo memiliki riwayat amputasi ibu jari kaki kiri. Saat tiba di rumah sakit, tubuh korban disebut telah tertutup kain.
Jenazah Sudah Dikafani Saat Tiba di Rumah Duka
Keluarga menyebut jenazah Sutrimo tiba di rumah duka sekitar pukul 23.00 WIB menggunakan ambulans dari Jakarta.
Di dalam ambulans terdapat seorang sopir dan dua pria yang menurut keluarga berperawakan seperti Militer. Jenazah kemudian diserahkan kepada keluarga dengan disaksikan kepala desa.
Menurut keluarga, jenazah sudah dimandikan dan dikafani sehingga mereka hanya dapat melihat bagian wajah sebelum proses pemakaman.
Keluarga juga mengaku belum menerima barang-barang pribadi milik almarhum hingga pemakaman selesai. Barang yang disebut belum diserahkan antara lain telepon seluler, dompet, kartu ATM, serta pakaian milik korban.
Keluarga Ungkap Pengakuan Sutrimo Sebelum Meninggal
Adik ipar almarhum mengungkapkan, Sutrimo beberapa kali menceritakan persoalan yang dihadapinya sebelum meninggal dunia.
Menurut keterangan keluarga, almarhum mengaku pernah dijanjikan sebuah mobil oleh mantan Jampidsus Febrie Adriansyah. Namun, janji tersebut disebut tidak pernah direalisasikan.
Selain itu, keluarga juga menyebut Sutrimo pernah berselisih dengan kakak ipar Febrie Adriansyah terkait proyek batu bara di Jambi. Perselisihan itu, menurut keluarga, membuat almarhum hidup dalam ketakutan.
"Almarhum selalu ketakutan, sampai dengan almarhum meninggal tidak pernah akur dengan kakak ipar Bapak Febrie Adriansyah," demikian keterangan yang disampaikan pihak keluarga.
Eks Pegawai Sebut Klinik Mordent Milik Febrie
Mantan pegawai Klinik Mordent, Agus, mengatakan Sutrimo pernah bekerja di klinik tersebut selama kurang lebih dua tahun sekaligus tinggal di lokasi.
Menurut Agus, Klinik Mordent merupakan milik Febrie Adriansyah, meski telah berhenti beroperasi sekitar lima tahun terakhir.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Febrie Adriansyah maupun pihak-pihak yang disebut dalam pengakuan keluarga.
Redaksi juga belum dapat memverifikasi secara independen seluruh informasi tersebut. Sejumlah keterangan yang dimuat dalam berita ini masih bersumber dari pengakuan keluarga dan saksi sebagaimana tercantum dalam laporan yang diterima redaksi. (*)




