![]() |
| Antrean kendaraan mengular di APMS Barugaiya Selayar setelah Pertalite kembali tersedia (Photo: Tim/realitynews.web.id) |
Kemunculan Pertalite tersebut menjadi perhatian warga. Sebab, kapal tanker MT Patra Zalva II yang mengangkut BBM terpantau masih dalam perjalanan menuju Pelabuhan Rauf Rahman Benteng, Selayar. Pada saat yang sama, Pertalite dan Pertamax dilaporkan sulit ditemukan di sejumlah wilayah Kota Benteng dan sekitarnya.
Bagi pemilik kendaraan, tersedianya kembali Pertalite menjadi kabar yang dinanti. Namun kemunculannya di tengah situasi pasokan yang belum sepenuhnya normal memunculkan pertanyaan lain: bagaimana pola distribusi BBM subsidi di Selayar berlangsung selama kelangkaan terjadi?
Sejumlah warga bahkan mempertanyakan kemungkinan adanya penyimpangan dalam distribusi. Dugaan yang muncul antara lain penimbunan atau pengalihan BBM subsidi untuk dijual kembali melalui jaringan pengecer. Namun dugaan tersebut belum terverifikasi dan tidak dapat dianggap sebagai fakta sebelum ada pemeriksaan serta bukti dari instansi berwenang.
Pertanyaan mengenai distribusi BBM itu muncul bersamaan dengan rencana pemerintah daerah bersama tim gabungan dari sejumlah instansi untuk melakukan penertiban distribusi BBM subsidi di Selayar pada Rabu, 2 September 2026.
Sehari sebelumnya, 1 September 2026, antrean warga juga terlihat di salah satu titik penjualan BBM eceran di Desa Parak, Kecamatan Bontomanai. Warga mendatangi lokasi tersebut untuk mendapatkan bahan bakar setelah kesulitan memperoleh BBM di sejumlah titik penjualan resmi.
Harga BBM eceran di lokasi itu jauh lebih tinggi dibandingkan harga resmi. Bahan bakar dijual sekitar Rp25 ribu per liter.
Seorang warga asal Bulukumba yang sedang berada di Selayar mengatakan membeli BBM eceran untuk persiapan perjalanan kembali ke kampung halamannya. Menurut dia, kelangkaan BBM membuat masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan bahan bakar.
“Keberadaan BBM di Selayar seperti hantu. Kadang menunjukkan penampakannya, lalu menghilang tanpa jejak. Soal harga juga terlalu mahal,” katanya.
Situasi tersebut menunjukkan persoalan BBM di Selayar bukan semata soal ketersediaan. Ketika pasokan di sejumlah titik resmi sulit diperoleh, pasar eceran justru menjadi pilihan masyarakat dengan konsekuensi harga yang jauh lebih tinggi.
Kini, kemunculan Pertalite di APMS Barugaiya menjadi bagian dari teka-teki distribusi BBM subsidi di Selayar. Pemerintah daerah dan instansi terkait perlu memastikan dari mana pasokan tersebut berasal, bagaimana jalur distribusinya, dan apakah penyalurannya telah sesuai dengan ketentuan.
Pengawasan menjadi penting untuk memastikan BBM subsidi benar-benar sampai kepada masyarakat yang berhak sekaligus mencegah potensi penyimpangan di sepanjang rantai distribusi.
Hasil penertiban dan pengawasan tim gabungan pada hari ini diharapkan dapat menjawab keresahan masyarakat serta memberikan gambaran yang lebih terang mengenai penyebab kelangkaan BBM di Kabupaten Kepulauan Selayar. (Red)




