![]() |
| Jembatan Janggikiya ambruk, Penghubung jalan poros Tanabau-Baera Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar (Photo: Istimewa) |
Ambruknya jembatan ini langsung berdampak pada aktivitas harian warga. Sejumlah masyarakat, termasuk guru serta siswa MTs Baera, terpaksa mencari jalan alternatif karena akses dari dua arah—Baera dan Tanabau—putus total. Jembatan yang selama ini menjadi satu-satunya jalur penghubung dinyatakan tidak dapat dilalui kendaraan maupun pejalan kaki.
Situasi tersebut menimbulkan keresahan warga. Pantauan tim RealityNews melalui unggahan Facebook menunjukkan banyak netizen mempertanyakan bagaimana mereka bisa pulang ke rumah atau melanjutkan aktivitas. Salah seorang warga, Ita Fahry, menuliskan kekhawatirannya:
“Waduhh, jembatan di kampungku Baera roboh. Bagaimana lagi caranya untuk pulang ke rumah?”
Selain itu, pesan berantai di beberapa grup WhatsApp juga menyebutkan bahwa jembatan tersebut diduga ambruk akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Bontoharu semalaman. Warga menyebut tidak ada jalur alternatif selain jalan poros Tanabau–Baera, sehingga kondisi ini membuat mobilitas masyarakat sepenuhnya terhenti.
Untuk memastikan informasi dan mengetahui langkah penanganan, tim Report RealityNews menghubungi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kepulauan Selayar. Beberapa pertanyaan diajukan, mulai dari penanganan darurat, penyebab ambruknya jembatan, hingga informasi tahun pembangunan jembatan tersebut.
Kadis PUTR Selayar, Musytari, MM, Pub, memberikan penjelasan melalui pesan WhatsApp:
“Crew Dinas PUTR sudah menuju lokasi bencana dan akan menghitung berapa biaya untuk penanganan darurat. Insya Allah akan ditangani melalui dana BTT. Saya kurang tahu juga kapan jembatan itu dibangun karena saya juga baru di PU.”
Saat ini masyarakat berharap adanya upaya cepat dari pemerintah daerah agar akses transportasi segera pulih. Kondisi jembatan Jangngi'iya menjadi perhatian mendesak mengingat fungsinya yang vital sebagai jalur utama penghubung antardesa. (AR)




