![]() |
| Ilustrasi pencarian orang hilang (Photo: AI banana Google) |
Sarapuddin, yang akrab disapa Puddin, diketahui meninggalkan rumah sejak subuh sekitar pukul 05.30 WITA untuk mengurus ternaknya. Ia berangkat berjalan kaki tanpa membawa bekal makanan, kebiasaan yang selama ini dinilai wajar oleh keluarga.
“Biasanya siang hari sudah kembali ke rumah,” kata Sekretaris Desa Harapan, Anto.
Namun hingga tengah hari, Puddin tak kunjung pulang. Istrinya yang cemas kemudian menyusul ke lokasi ternak di Pansurang sambil membawa rantang makanan. Setibanya di lokasi, Sarapuddin tidak ditemukan.
Sore harinya, warga menemukan rantang makanan tersebut masih tergeletak utuh dan tertutup rapat di kawasan perbukitan. Temuan itu memperkuat dugaan bahwa Sarapuddin belum sempat mencapai lokasi ternaknya.
Pencarian kemudian dilakukan oleh warga Dusun Lopi-Lopi dan Ballabulo. Salah satu cara yang digunakan adalah memukul gong secara berulang pada Jumat malam sekitar pukul 19.38 WITA.
Di Selayar, pemukulan gong merupakan kearifan lokal yang dipercaya dapat memanggil orang yang tersesat atau memberi penanda bagi warga yang berada di hutan. Suara gong menggema dari perbukitan Pansurang di tengah upaya pencarian yang penuh keterbatasan.
Hingga berita ini diturunkan, Pos Basarnas Selayar belum bergabung dalam pencarian. Tim Basarnas saat ini masih terlibat dalam operasi pencarian seorang lansia yang dilaporkan hilang di wilayah Alasa, Kecamatan Bontomatene.
Kondisi tersebut membuat proses pencarian Sarapuddin masih sepenuhnya mengandalkan inisiatif warga dan aparat desa setempat. Keluarga korban berharap Basarnas serta unsur SAR lainnya segera turun tangan untuk memperkuat upaya pencarian di lapangan. (AR)




