![]() |
| Wakil Bupati Maybrat Ferdinando Solossa sambuat kedatangan Tim Kajian Akademik DOB Kabupaten Maybrat Sau di Lapangan Ela, Distrik Ayamaru (Photo: Tim/realitynews.web.id) |
Penegasan itu disampaikan Solossa saat menyambut kedatangan Tim Kajian Akademik DOB Kabupaten Maybrat Sau di Lapangan Ela, Distrik Ayamaru, Selasa (27/1/2026). Kehadiran tim tersebut dinilai krusial untuk mempercepat proses pemekaran melalui penguatan data akademik dan administratif.
Menurut Solossa, perjuangan pembentukan Kabupaten Maybrat Sau telah berlangsung hampir dua dekade. Selama rentang waktu tersebut, berbagai persyaratan formal telah dilalui, mulai dari dukungan pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pemerintah pusat.
“Perjuangan ini panjang dan konsisten. Semua tahapan formal sudah ditempuh,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembentukan DOB Maybrat Sau juga menjadi jalan keluar atas konflik penetapan ibu kota Kabupaten Maybrat yang berlangsung sekitar sembilan tahun antara Ayamaru dan Kumurkek. Melalui proses rekonsiliasi, disepakati ibu kota Kabupaten Maybrat kembali ke Kumurkek, sementara Ayamaru ditetapkan sebagai ibu kota calon Kabupaten Maybrat Sau.
“Kesepakatan ini adalah solusi permanen dan bagian dari komitmen negara kepada masyarakat Maybrat,” kata Solossa.
Dari sisi kesiapan wilayah, calon DOB Maybrat Sau mencakup 17 distrik, 166 kampung, dan satu kelurahan, dengan jumlah penduduk mencapai 32.515 jiwa. Data tersebut dinilai telah memenuhi syarat pembentukan daerah otonom baru.
Solossa juga menyinggung posisi historis Ayamaru yang pada masa pemerintahan Belanda berstatus sebagai Onder Afdeling. Ia menyebut hampir seluruh wilayah dengan status serupa di Tanah Papua telah lebih dulu dimekarkan menjadi kabupaten atau kota.
“Secara historis dan administratif, Maybrat Sau memiliki dasar yang kuat untuk dimekarkan,” ujarnya.
Terkait kesiapan teknis, Solossa memastikan infrastruktur pemerintahan di Ayamaru telah siap sepenuhnya. Dukungan Personel, Pembiayaan, Prasarana, dan Dokumen (P3D) disebut telah dipersiapkan sebagai bagian dari langkah penyelesaian konflik dan percepatan pemekaran.
“Infrastruktur dan dukungan anggaran sudah siap 100 persen,” katanya.
Selama tiga hari ke depan, Tim Kajian Akademik dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan sekaligus sinkronisasi data dengan kajian sebelumnya yang dilakukan Universitas Cenderawasih dan Universitas Gadjah Mada. Seluruh dokumen tersebut akan digabungkan dalam satu kajian akademik terpadu.
Pemerintah daerah bersama masyarakat setempat juga menjamin keamanan penuh selama proses kajian berlangsung.
“Kami siap mendampingi tim di seluruh titik observasi dan menjamin keamanan,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Solossa kembali menegaskan sikap pemerintah daerah dan masyarakat terhadap pemekaran Maybrat Sau.
“Jika NKRI adalah harga mati, maka Maybrat Sau juga harga mati,” tegasnya. (*)




