Notification

×

Iklan

Iklan

Detik-detik Heroik Penyintas KM Nurul Salsa: Selamatkan Bocah hingga Berenang Cari Bantuan

Sabtu, Juli 18, 2026 | 19.51 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-18T11:51:23Z

 

Gambaran suasana para Korban Kapal KM Nurul Salsa yang tenggelam di perairan Polassi Kecamatan Bontosikuyu Kabupaten Kepulauan Selayar (Photo: Ist) 


Realitynews.web.id | SELAYAR – Peristiwa tenggelamnya KM Nurul Salsa di perairan Polassi, Kecamatan Bontosikuyu, Kabupaten Kepulauan Selayar, pada Rabu (15/7/2026), menyisakan kisah pilu sekaligus keberanian yang tak terlupakan. Di balik gelombang tinggi yang menelan kapal penumpang rute Pelabuhan Jampea, Kecamatan Pasimasunggu, menuju Pelabuhan Benteng, tersimpan perjuangan para korban untuk bertahan hidup selama berjam-jam di tengah lautan.


Salah seorang penyintas, Muhammad Nawir, menjadi saksi hidup sekaligus sosok yang berupaya menyelamatkan banyak korban di tengah situasi yang mencekam.


"Saya penumpang terakhir yang turun dari kapal saat kapal mulai tenggelam," tutur Nawir saat menceritakan detik-detik nahas tersebut.


Begitu tubuhnya tercebur ke laut, Nawir melihat seorang anak perempuan bernama Naura terjatuh dari gabus pelampung besar yang saat itu menjadi satu-satunya harapan para korban untuk bertahan hidup.


Tanpa berpikir panjang, ia berenang mendekati Naura dan menarik tubuh bocah itu agar tidak terseret ombak.


"Setelah saya berhasil meraihnya, langsung saya angkat kembali ke atas gabus bersama korban lainnya. Awalnya dia tidak mau, padahal saat itu dia juga memakai pelampung seperti penumpang yang lain," kenangnya.


Namun, keselamatan Naura belum sepenuhnya membuat bocah itu tenang. Di tengah dinginnya air laut dan derasnya gelombang, ia terus menangis sambil mencari neneknya.


"Om, tolong carikan nenekku," pinta Naura kepada Nawir.


Nawir berusaha menenangkan anak tersebut. Ia bertanya di mana terakhir kali melihat sang nenek, tetapi Naura hanya mampu menjawab bahwa sebelumnya ia masih melihatnya, lalu tiba-tiba menghilang di antara gelombang.


"Saya bilang, 'Kamu tetap di atas gabus dulu supaya aman. Saya akan jaga kamu.' Setelah itu saya terus mencari keberadaan neneknya di antara korban-korban yang masih mengapung di laut, tetapi saya tidak menemukannya," ujar Nawir.


Malam semakin larut. Cahaya perlahan menghilang, sementara para korban masih terombang-ambing di tengah laut. Dalam kondisi kelelahan dan diterpa ombak, Nawir bersama penyintas lain bernama Asmar berkeliling mengitari gabus untuk memastikan semua korban masih mampu bertahan.


Mereka memeriksa satu per satu kondisi korban yang bergelantungan di sisi gabus agar tidak terlepas karena kehabisan tenaga.


"Saya takut ada yang lemas lalu terlepas dari pegangan. Kalau ada yang mulai kelelahan, kami langsung bantu menguatkan dan mengangkatnya," katanya.


Di tengah perjuangan bertahan hidup, Nawir juga memperoleh sedikit makanan dan air minum yang kemudian dibagikan kepada beberapa korban.


"Saya bilang kepada mereka, simpan baik-baik makanan dan air itu. Itulah satu-satunya bekal kita untuk bertahan hidup," ujarnya.


Namun, perjuangan malam itu juga diwarnai kepedihan.


Seorang korban bernama Jae, suami dari Mia, mulai menunjukkan kondisi fisik yang semakin lemah akibat terlalu lama berada di air laut.


Nawir berulang kali memintanya naik ke atas gabus agar tubuhnya tidak terus terendam.


"Dia menolak. Katanya kalau dia ikut naik, gabus itu tidak akan kuat menampung semua orang. Dia hanya bilang, 'Saya pasrah saja kepada Allah Ta'ala.'"


Mendengar jawaban itu, Nawir hanya bisa terus memberi semangat sambil berharap pertolongan segera datang.


Sekitar pukul 20.00 Wita, kondisi Jae semakin memburuk. Ia mengeluhkan sakit hebat pada bagian perut. Para korban yang berada di sekelilingnya hanya mampu mendengarkan rintihannya karena tidak memiliki apa pun untuk memberikan pertolongan.


Beberapa menit kemudian, Mia meminta Nawir memeriksa kondisi suaminya.


"Saat saya periksa, beliau sudah meninggal dunia."


Kesedihan semakin terasa ketika Mia meminta Nawir membantu mengikat jasad suaminya agar tidak hanyut terbawa arus laut.


Permintaan itu dipenuhi Nawir, meski saat itu ia sendiri masih berjuang mempertahankan hidup.


Sekitar pukul 21.00 Wita, Nawir kembali mengamati kondisi korban lain. Ia melihat tiga perempuan mulai mengalami kesulitan bernapas akibat terus dihantam ombak.


Di kejauhan, ia melihat secercah harapan. Lampu sebuah perahu nelayan jenis pagae tampak menyala di tengah gelapnya lautan.


Tanpa ragu, Nawir berpamitan kepada para korban yang berada di kelompoknya.


"Saya bilang, kalian tetap di sini, saling menjaga dan jangan lepaskan pegangan. Saya berenang mencari pertolongan."


Saat meninggalkan kelompok itu, seluruh korban masih bertahan di sekitar gabus. Sebagian bergelantungan di sisi pelampung, sebagian lainnya duduk di atasnya, termasuk Naura yang terus dijaga agar tetap selamat.


Kesaksian Muhammad Nawir menggambarkan bagaimana di tengah situasi yang nyaris tanpa harapan, rasa kemanusiaan tetap hadir. Di saat dirinya sendiri berada di ambang maut, ia memilih mendahulukan keselamatan orang lain, menenangkan seorang anak yang kehilangan keluarganya, membagikan makanan terakhir, hingga mempertaruhkan nyawanya berenang mencari bantuan bagi para penyintas yang masih bertahan di tengah gelombang laut.



Penulis: Andi Rusman

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update