![]() |
| Dandim 1415 Selayar, Letkol Czi Yudo Harianto, ST turun langsung bagun jembatan darurat (Photo: Tim/realitynews.web.id) |
Jembatan tersebut dilaporkan runtuh sekitar pukul 14.00 Wita akibat kerusakan strukturl pada pondasi yang telah lama tergerus erosi. Curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir memperparah kondisi tanah, sehingga jembatan tidak lagi mampu menahan tekanan aliran sungai.
Pembangunan jembatan darurat dimulai pukul 08.35 Wita dengan melibatkan personel TNI, BPBD, dan sekitar 60 warga. Sebanyak 20 batang kelapa sepanjang 10 meter digunakan sebagai landasan sementara untuk memulihkan akses penyeberangan.
![]() |
| Personil Kodim 1415 Selayar, BPBD Selayar dan Warga gotongroyong bangun jembatan darurat (Photo: Tim/Realitynews.web.id) |
Dari pantauan awak media ini, sejumlah pejabat berada di lokasi, di antaranya Pjs Danramil 1415-01/Bontosikuyu Kapten Inf. Khaeruddin Rasyid, Kalaksa BPBD Selayar Drs. Ahmad Alfianto M.M., Pub, Camat Bontoharu Andi Batara Gau, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Muh. Ikbal S.E., serta personel Kodim dan BPBD bersama warga Tanabau–Baera.
Namun, Kepala Desa setempat dilaporkan tidak hadir dari awal hingga akhir kegiatan. Camat Bontoharu juga hanya sempat melakukan dokumentasi sebelum meninggalkan lokasi. Pengerjaan jembatan darurat akhirnya rampung pada pukul 17.58 Wita.
Dandim 1415/Selayar, Letkol Czi Yudo Harianto, S.T., menegaskan bahwa pembangunan jembatan darurat merupakan langkah cepat guna memulihkan mobilitas masyarakat dan mengurangi risiko kecelakaan pada jalur alternatif yang licin. Langkah ini juga bertujuan memastikan distribusi kebutuhan pokok tetap berjalan.
“Ini langkah tanggap darurat. Jangan biarkan warga terisolasi terlalu lama,” ujarnya di lokasi.
![]() |
| Jembatan darurat akses utama penghubung Susun Tanabau dan Baera sukses dibangun (Photo: Tim/realitynews.web.id) |
Hasil analisa sementara mengungkap bahwa pondasi jembatan telah lama melemah akibat erosi dan minimnya perawatan. Warga Tanabau dan Baera bahkan disebut telah mengajukan proposal perbaikan sejak 2022, namun belum mendapat respons dari pemerintah. Kawasan Bontoharu sendiri dikenal sebagai wilayah rawan erosi, terutama pada persimpangan sungai kecil tanpa pondasi permanen.
Usai pengerjaan, Dandim menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah daerah, antara lain:
1. Pembangunan jembatan permanen berbahan beton bertulang segera dilakukan.
2. Inspeksi rutin terhadap seluruh jembatan di wilayah Kepulauan Selayar.
3. Peningkatan sistem peringatan dini terkait potensi erosi dan banjir oleh BPBD dan pemerintah desa.
4. Percepatan koordinasi antara Kodim, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat untuk pembangunan jembatan permanen.
5. Imbauan kepada warga agar menjaga kebersihan bantaran sungai untuk mencegah erosi lanjutan.
Dengan selesainya jembatan darurat ini, aktivitas warga dua dusun kembali normal sambil menunggu realisasi pembangunan jembatan permanen dari pemerintah. (HS/AR)






