![]() |
| Nur Afandi Founder Buka Baca Media |
Pertanyaan sederhana, namun menyimpan rindu yang dalam rindu pada persahabatan yang pernah begitu tulus.
Dulu, pertemanan terasa dekat dan utuh. Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kebahagiaan begitu sederhana. Bermain hingga lupa waktu, berbagi bekal, atau tertawa karena hal-hal sepele. Tidak ada hitung-hitungan, tidak ada kepentingan, apalagi tuntutan. Yang ada hanyalah kebersamaan, tanpa harus mengorbankan apa pun.
Memasuki Sekolah Menengah Pertama, pertemanan mulai diwarnai cerita baru. Kita mulai mengenal mimpi, persaingan kecil, dan konflik yang sering berakhir dengan tawa. Kita belajar marah, belajar memaafkan, lalu kembali berjalan bersama seolah tak pernah ada jarak di antara kita.
Di masa SMA atau SMK, ikatan terasa semakin kuat. Kita saling menjadi saksi kegagalan dan harapan. Ada yang jatuh cinta, patah hati, gagal ujian, hingga berani bermimpi besar tentang masa depan. Janji-janji pun terucap ringan, “nanti kalau sudah sukses, jangan lupa ya.”
Kemudian datang fase kuliah atau awal bekerja. Jalan hidup mulai bercabang. Kota berbeda, kesibukan berbeda, dan waktu bertemu semakin jarang. Grup percakapan yang dulu ramai perlahan sunyi. Bukan karena tak peduli, melainkan karena hidup mulai menuntut banyak hal, sering kali tanpa disadari menjauhkan satu sama lain.
Saat benar-benar terjun ke dunia kerja, realita semakin terasa. Ada teman yang berhasil meraih kesuksesan jabatan naik, usaha berkembang, hidup tampak mapan. Ada pula yang dulu bersinar, kini harus jatuh dan bangkit kembali karena usaha bangkrut atau keadaan yang tak terduga. Di titik inilah pertemanan diuji, bukan oleh jarak, melainkan oleh sikap.
Siapa yang masih datang saat kita susah?
Siapa yang tetap rendah hati saat sukses?
Dan siapa yang memilih menghilang saat keadaan berbalik?
Persahabatan sejati bukan tentang apa yang bisa didapat, melainkan tentang siapa yang tetap bertahan tanpa harus saling mengorbankan kepentingan, harga diri, atau keikhlasan. Sahabat sejati hadir bukan hanya saat tawa dan kemenangan, tetapi juga saat luka dan kegagalan.
Kini, mungkin kita jarang bertemu. Mungkin hanya sesekali saling menyapa lewat pesan singkat. Namun rindu itu tetap ada rindu pada masa ketika persahabatan tidak diukur oleh status, harta, atau pencapaian, melainkan oleh ketulusan.
Jika suatu hari tulisan ini mengingatkan pada wajah-wajah lama, jangan ragu untuk menyapa. Karena sahabat sejati tak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya berjalan di jalur hidup yang berbeda, menunggu waktu yang tepat untuk kembali saling menemukan tanpa syarat, tanpa pamrih.
Penulis: Nur Afandi
Founder Buka Baca Media




