![]() |
| Suasana Pelabuhan Makassar view diambil di atas kapal KM Dharma Kartika III (Photo: Istimewa) |
Kisah tersebut dibagikan Zubair melalui salah satu grup WhatsApp informasi lokal Selayar pada Jumat (17/04/2026), dan langsung mendapat perhatian dari anggota grup.
KM Dharma Kartika sendiri merupakan kapal milik PT Dharma Laut Utama (DLU), salah satu operator feri swasta terbesar di Indonesia yang melayani berbagai rute pelayaran antar wilayah, termasuk Makassar–Selayar.
Dalam informasi yang dibagikan, Zubair mengingatkan calon penumpang lain agar lebih bersiap terhadap prosedur terbaru yang diterapkan, khususnya terkait pengambilan tiket dan gelang penanda penumpang.
Ia mengaku memesan tiket perjalanan bersama istri dan dua anaknya. Setibanya di kapal, ia meminta keluarganya tetap berada di atas kapal, sementara dirinya berjalan kaki menuju terminal tiket yang berjarak sekitar 600 meter untuk mencetak tiket.
Namun, setelah tiket berhasil dicetak, Zubair justru dihadapkan pada aturan yang menurutnya tidak praktis. Petugas loket mempertanyakan keberadaan anggota keluarganya yang lain.
“Saya hanya ingin mencetak tiket, tapi petugas mengatakan tiket boleh diambil, sementara gelang penanda tidak bisa diwakilkan dan harus diambil langsung oleh masing-masing penumpang,” ungkap Zubair.
Meski telah dijelaskan bahwa keluarganya sudah berada di atas kapal, petugas tetap bersikeras pada aturan tersebut. Hal ini membuat Zubair mempertanyakan urgensi kebijakan itu.
“Kalau memang gelang itu penting, kenapa tidak bisa diwakilkan? Aturan seperti ini justru membuat penumpang bolak-balik dan kelelahan serta merepotkan,” keluhnya saat dikonfirmasi.
Karena tidak ingin kembali ke kapal untuk menjemput keluarganya, Zubair akhirnya memutuskan untuk tidak mengambil gelang penanda bagi istri dan anak-anaknya, serta meminta petugas untuk menyimpannya.
Ia juga membandingkan dengan sistem pelayanan sebelumnya yang dinilai jauh lebih memudahkan penumpang. Menurutnya, dahulu penumpang yang tidak sempat ke terminal tiket masih bisa mencetak tiket langsung di pintu masuk kapal dengan menunjukkan QR code pemesanan.
“Dulu lebih praktis dan sangat membantu. Sekarang justru terasa menyulitkan. Jujur, kalau sistemnya seperti ini, saya kapok naik KM Dharma Kartika,” tegasnya.
Pengalaman yang dibagikan Zubair ini diharapkan dapat menjadi perhatian bagi pihak terkait untuk mengevaluasi kembali kebijakan yang diterapkan, demi meningkatkan kenyamanan dan efisiensi pelayanan bagi para penumpang. (AR)




