![]() |
| Martati bersama ibu-ibu lainya (warga Batangmata Sapo tengah menyiapkan sarapan pagi Personil Satgas TMMD 128 (photo: Tim/Realitynews) |
Realitynews.web.id | SELAYAR – Saat sebagian besar warga masih terlelap, dapur sederhana di Kelurahan Batangmata Sapo justru mulai hidup. Jam baru menunjukkan pukul 03.00 WITA, namun Martati (52) bersama beberapa ibu rumah tangga lainnya sudah sibuk menyalakan api, menanak nasi, dan menyiapkan bahan makanan.
Di balik sunyinya dini hari, mereka memulai rutinitas panjang demi satu tujuan: memastikan para personel Satgas TMMD ke-128 mendapatkan makanan yang layak sebelum memulai pekerjaan membangun desa.
Bagi Martati, aktivitas ini bukan sekadar pekerjaan dapur. Ini adalah bentuk kontribusi nyata sebagai warga. Bersama dua juru masak lainnya dan dibantu beberapa ibu-ibu setempat, ia mengelola dapur umum yang berlokasi di rumahnya sendiri.
Setiap hari, dapur itu melayani kebutuhan konsumsi sekitar 97 personel Satgas. Tiga kali makan utama disiapkan tanpa jeda panjang sarapan pagi, makan siang, hingga makan malam. Bahkan, di sela-sela itu, mereka masih menyempatkan diri menyuguhkan kopi dan kue tradisional bagi para personel yang kembali dari lokasi pekerjaan.
Rutinitas itu berlangsung hampir tanpa henti. Usai menyiapkan sarapan, mereka hanya beristirahat sejenak sebelum kembali bergulat dengan bahan makanan untuk makan siang. Sore harinya, pekerjaan kembali berulang untuk menyiapkan makan malam.
“Kami senang bisa membantu. Walaupun hanya dari dapur, kami merasa ikut ambil bagian dalam pembangunan di desa ini,” ujar Martati dengan senyum sederhana, Sabtu (2/5/2026).
Rumahnya kini tak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang kebersamaan. Di sanalah TNI, Polri, dan warga berbaur tanpa sekat. Dapur itu menjadi saksi bagaimana kerja besar di lapangan ternyata ditopang oleh kerja sunyi dari balik rumah-rumah warga.
![]() |
| Suasana sarapan siang para personil Satgas TMMD 128 di dapur umum (Photo: AR/Realitynews) |
Ketersediaan bahan makanan pun tak lepas dari dukungan pihak lain. Setiap hari, logistik dapur diantar secara rutin oleh personel TNI, memastikan kebutuhan tetap terpenuhi dan kegiatan memasak berjalan lancar.
Kisah Martati dan ibu-ibu lainnya menjadi potret bahwa pembangunan tidak selalu hadir dalam bentuk alat berat atau pekerjaan fisik. Ada tangan-tangan sederhana yang bekerja sejak dini hari, ada ketulusan yang menyala dari dapur-dapur kecil, dan ada semangat gotong royong yang mengikat semua pihak.
Di Batangmata Sapo, TMMD bukan hanya tentang membangun infrastruktur, tetapi juga tentang merawat kebersamaan yang dimulai dari sepiring nasi hangat di pagi hari. (Rls)





