Notification

×

Iklan

Iklan

Gunung Api Bergeliat dari Sumatera hingga Maluku, Anak Krakatau Masih Siaga

Senin, September 07, 2026 | 16.18 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-07T08:19:01Z

 

Tujuh gunung api Indonesia tercatat aktif pada awal September 2026. Anak Krakatau dan Semeru berstatus Siaga, sementara aktivitas vulkanik terus dipantau (Photo: Ist) 


Realitynews.web.id | JAKARTA — Aktivitas vulkanik sejumlah gunung api di Indonesia meningkat dalam beberapa hari terakhir. Dari Sumatera hingga Maluku Utara, sedikitnya tujuh gunung api tercatat mengalami erupsi atau menunjukkan aktivitas vulkanik yang perlu diwaspadai pada awal September 2026.


Fenomena itu berlangsung hampir bersamaan. Namun, kemunculan erupsi di sejumlah gunung api tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya hubungan langsung satu sama lain. Setiap gunung memiliki sistem magma dan karakteristik vulkanik yang berbeda.


Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu yang paling mendapat perhatian. Gunung api yang berada di Selat Sunda itu mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam, sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.


Setelah episode erupsi menerus tersebut berakhir, Anak Krakatau kembali menunjukkan erupsi strombolian secara berkala. Badan Geologi menyatakan aktivitas vulkaniknya masih dipantau karena tingkat kegempaan gunung tersebut masih tinggi. Statusnya tetap berada pada Level III atau Siaga.


Pada periode 6-7 September, pemantauan Badan Geologi mencatat tiga kali gempa erupsi, sembilan kali gempa hembusan, 93 kali gempa frekuensi rendah, serta 98 kali gempa hybrid atau fase banyak. Potensi bahaya yang masih diwaspadai berupa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Jika kembali terjadi erupsi menerus, aliran lava juga menjadi ancaman.


Masyarakat, wisatawan, dan pendaki diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau.


Di Jawa Timur, Gunung Semeru juga masih berada dalam pengawasan ketat. Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu berstatus Level III atau Siaga. Pada 6 September, Semeru kembali dilaporkan mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak.


Aktivitas vulkanik juga tercatat di kawasan timur Indonesia. Gunung Ibu di Halmahera, Maluku Utara, mengalami erupsi pada Minggu, 6 September 2026. Kolom letusannya teramati sekitar 400 meter di atas puncak dengan warna kelabu dan bergerak ke arah timur laut.


Di Nusa Tenggara Timur, Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata juga mengalami erupsi. Letusan pada 6 September tercatat menghasilkan kolom abu sekitar 400 meter di atas puncak. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat.


Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur juga masih menjadi bagian dari daftar gunung api yang aktivitasnya dipantau. Gunung ini berada pada Level III atau Siaga. Aktivitas erupsinya telah berlangsung dalam beberapa periode dan menjadi perhatian karena potensi bahaya bagi masyarakat di sekitar kawasan gunung.


Di Sumatera Utara, Gunung Sinabung juga masih menunjukkan aktivitas vulkanik. Status gunung tersebut berada pada Level III atau Siaga setelah aktivitasnya meningkat. Gunung Sinabung tercatat mengalami erupsi dalam beberapa waktu terakhir.


Sementara itu, di Maluku Utara, Gunung Dukono di Halmahera Utara masih berada pada Level II atau Waspada. Gunung ini dikenal memiliki aktivitas erupsi yang berlangsung terus-menerus, dengan lontaran abu vulkanik yang menjadi salah satu ancaman utama.


Masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah Malupang Warirang dalam radius 4 kilometer. Aktivitas pendakian maupun kegiatan lain di kawasan yang masuk zona bahaya juga harus mengikuti rekomendasi otoritas vulkanologi.


Aktivitas sejumlah gunung api yang muncul hampir bersamaan dapat menimbulkan kekhawatiran. Namun, kondisi tersebut tidak berarti satu gunung memicu erupsi gunung lainnya.


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menjelaskan bahwa setiap gunung api memiliki sistem magma dan karakteristik aktivitas yang berbeda. Karena itu, peningkatan aktivitas pada beberapa gunung secara bersamaan perlu dilihat berdasarkan kondisi masing-masing gunung, bukan sebagai satu rangkaian letusan yang saling memicu.


Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gunung api, informasi mengenai status gunung dan radius bahaya menjadi jauh lebih penting dibanding memperdebatkan apakah erupsi tersebut saling berkaitan.


Perubahan status gunung api dapat terjadi sewaktu-waktu. Karena itu, masyarakat di kawasan rawan bencana diminta mengikuti informasi resmi PVMBG dan Badan Geologi serta mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan untuk masing-masing gunung. (red) 

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update