![]() |
| Arsip buku tanah Aceh Tamiang terendam banjir dan lumpur. Restorasi dilakukan dengan dukungan taruna STPN (Photo: Istimewa) |
Selain genangan air, lumpur setinggi 1–2 meter menutup permukiman warga, fasilitas umum, hingga kantor pemerintahan. Salah satu yang terdampak paling parah adalah Kantor Pertanahan (Kantah) Kabupaten Aceh Tamiang.
Air melampaui lantai bangunan dan masuk ke hampir seluruh ruangan, termasuk ruang penyimpanan arsip pertanahan. Saat kejadian, listrik padam total sehingga proses penyelamatan dokumen tidak dapat segera dilakukan.
Sekitar 75 ribu buku tanah dan surat ukur terdampak banjir, belum termasuk warkah serta dokumen pendukung lainnya.
Kepala Kantah Aceh Tamiang, Evan Rahmaini, menegaskan arsip tersebut merupakan dokumen vital yang menyangkut hak masyarakat.
“Itu adalah bukti hak masyarakat. Jika rusak atau hilang, maka kepastian hukum warga ikut terdampak,” ujarnya.
Enam hari pascabencana, saat akses mulai terbuka, Evan bersama jajaran akhirnya bisa masuk ke kantor. Lumpur setinggi lutut menutup lantai, rak arsip roboh, dan sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan berat.
Selama dua minggu pertama, akses kendaraan menuju kantor terputus total. Tim hanya bisa berjalan kaki untuk meninjau kondisi. Hari pertama difokuskan pada pemetaan kerusakan, sementara hari kedua mulai disusun strategi penyelamatan dan pemindahan arsip.
Karena hampir seluruh wilayah Aceh Tamiang terdampak, tidak ada gedung yang layak dijadikan lokasi restorasi. Bersama Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Aceh, Arinaldi, diputuskan arsip dievakuasi ke wilayah yang dampaknya lebih ringan, yakni Kabupaten Langkat, Kota Langsa, dan Banda Aceh.
Proses restorasi dilakukan dengan dukungan Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN). Sekitar 30 taruna dan taruni diterjunkan melalui program Kuliah Kerja Nyata Pertanahan–Praktik Tata Laksana Pertanahan (KKNP-PTLP).
Arinaldi menyebut, hingga kini sekitar 10 persen arsip atau setara 1,9 meter linier telah berhasil dibersihkan. Proses pemulihan akan terus difokuskan di lokasi evakuasi.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan akses, Kantah Aceh Tamiang mulai membuka pelayanan secara bertahap di lokasi sementara. Pemulihan dilakukan sembari memastikan keamanan dan keabsahan hak atas tanah masyarakat tetap terjaga. (*)




